Kabar Terbaru

BROSUR PENDAFTARAN MTS ASSALAFIYYAH




 

Wisata Budaya MTs Assalafiyyah 2013


Setelah sebulan lamanya liburan Ramadhan dan Lebaran, pada hari Senin tanggal 26 Agustus 2013 anak-anak didik MTs Assalafiyyah diajak untuk mengenal lebih jauh budaya dan tradisi Jawa dengan mengunjungi beberapa lokasi wisata budaya. Di antaranya lokawisata Candi Prambanan, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan berakhir di Pantai Parangtritis. Berikut hasil dokumentasinya :

Dibuat untuk MTASSALAFIYYAH MLANGI YOGYAKARTA
 

PENDIDIKAN BERBASIS PESANTREN: MEMBENTUK KARAKTER PRIBADI MUSLIM

Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tertua di tanah air yang memberikan andil sangat besar dalam mencerdaskan kehidupan ummat dan bangsa. Dari ‘rahim’ pesantrenlah lahir tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kaum intelektual, dan pemimpin-pemimpin bangsa. Namun, di masa globalisasi ini, pesantren justru terkesan sebagai lembaga ‘kumuh’ dan bukan ‘pilihan’ yang populer dibandingkan dengan sekolah-sekolah ‘modern’ yang banyak bermunculan. Hal inilah yang membuat pihak pesantren merasa perlu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional, meskipun perubahan-perubahan yang dilakukan itu tetap tidak dapat merubah kultur yang memang ada dalam budaya pesantren.
Pendahuluan
Pendidikan sebagai salah satu komponen pembangun bangsa memiliki fungsi strategis untuk membentuk manusia yang bermoral dan berakhlak baik, sehingga dapat menghantarkan peserta didik menuju keseimbangan pribadi antara kecerdasan intelektual (ilmu) dengan kecerdasan emosional (perilaku) yang sejalan dengan tuntunan Islam. 

Pendidikan Islam Indonesia yang ada sekarang ini ternyata lebih menekankan pada kebutuhan jasmani peserta didik, belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan rohaninya. Hal ini merupakan ‘turunan’ dari sistem pendidikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda, yang kemudian di adopsi oleh para pemegang kebijakan setelah kemerdekaan RI tahun 1945. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah lembaga pendidikan Islam yang dapat memenuhi dua kebutuhan tersebut sehingga apa yang menjadi tujuannya dapat diwujudkan.

Pesantren sebagai salah satu institusi pendidikan tradisional di Indonesia merupakan lembaga yang menekankan pentingnya tradisi keislaman di tengah-tengah kehidupan sebagai sumber utama moral dan akhlak. Secara historis, pesantren telah hidup sejak 300-400 tahun lampau dan menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim Indonesia. Peran multifungsi pesantren di Indonesia sudah dimulai sejak perang melawan penjajah di era kolonialisme hingga menjadi penyumbang pemikiran konstruktif dalam membangun bangsa di era globalisasi. Keunggulan pesantren terletak pada prinsip ‘memanusiakan manusia’ dalam proses pembelajarannya. Jika di pendidikan formal sekolah lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan materi semata, maka di pesantren lebih ditekankan pada pembinaan karakter individual dan keteladanan dari seorang ‘guru’ kepada peserta didik yang berlangsung 24 jam penuh. 

Seiring dengan perkembangan pendidikan saat ini, seperti munculnya sekolah-sekolah dengan sistem ‘Boarding School’ yang terinspirasi dari pesantren, lembaga pesantren ini mulai ditinggalkan oleh para orang tua yang menginginkan sekolah yang ‘lebih modern’. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah, bahwa pesantren lebih dikesankan ‘kumuh’ dan bukan ‘pilihan’ yang populer dibandingkan dengan sekolah umum lainnya. Selain itu perlu dirumuskan konsep yang tepat untuk mengoptimalkan peran pesantren di era globalisasi, sehingga di masa depan pesantren dapat muncul sebagi salah satu pusat institusi pendidikan Islam tingkat menengah yang mengembangkan sumber daya manusia menuju terwujudnya masyarakat yang sesuai dengan Islam. 

Sekilas Pesantren Dalam Sejarah 
Tidak ada data resmi tentang kapan pesantren pertama muncul di Indonesia. Namun dari catatan para sejarawan, pesantren mulai dikenal di Nusantara sejak masuknya Islam di Indonesia. Pada abad ke-18, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan rakyat yang menekankan pada bidang penyiaran agama dan menjadi panutan bagi masyarakat sekitar dalam hal moralitas. Kehadirannya tidak saja sebagai lembaga pendidikan, sosial keagamaan, ataupun lembaga penyiaran agama saja, tapi juga sebagai pusat gerakan pengembangan Islam. 

Selama masa kolonial Belanda, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling banyak berhubungan dengan rakyat. Lembaga ini ‘dipandang sebelah mata’ oleh pemerintah kolonial Belanda karena mereka beranggapan bahwa pesantren memiliki sistem pendidikan yang ‘buruk’ ditinjau dari tujuan, metode, dan bahasa (Arab) yang digunakan. Sehingga, lembaga ini tidak dimasukkan dalam perencanaan pendidikan umum pemerintah kolonial. Bagi mereka, tujuan pendidikannya dinilai tidak menyentuh kehidupan duniawi, tidak menggunakan metode yang jelas, dan bahasa yang digunakan bukan bahasa latin. Itulah sebabnya, orientasi yang diarahkan pada sekolah umum adalah untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan dalam kehidupan duniawi (pendidikan jasmani) saja, sedangkan orientasi pesantren adalah mengarah pada pembinaan moral dan kehidupan ukhrawi (pendidikan rohani). 

Dalam posisi terpisah seperti inilah pesantren terus mengembangkan dirinya dan menjadi tumpuan pendidikan bagi ummat Islam di pelosok-pelosok pedesaan sampai pada masa revolusi kemerdekaan. Pada masa revolusi fisik, pesantren merupakan salah satu pusat gerilya dalam perang melawan Belanda. Banyak santri membentuk barisan Hizbullah yang menjadi salah satu cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Pada masa ini pesantren merupakan tempat belajar yang sangat diminati oleh berbagai macam kalangan ummat muslim.

Namun, seiring perubahan yang semakin cepat sejak Indonesia merdeka dan kehidupan sosial ummat Islam Indonesia juga mengalami perubahan dari masyarakat pedesaan yang agraris ke masyarakat perkotaan Industri dan perdagangan, mengakibatkan pula perubahan dalam model-model pendidikan Islam. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang modern tumbuh dengan pesat seiring dengan perubahan pada kurikulum, subtansi dan tujuan pendidikan, serta sistem dan organisasi pendidikan. Pesantren hanya diminati oleh keluarga muslim pedesaan yang berpenghasilan rendah. Sedangkan keluarga muslim perkotaan yang berpenghasilan menengah ke atas lebih memilih sekolah-sekolah modern yang menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. 

Banyak anggapan bahwa suatu saat pesantren akan hilang dan lenyap dari peta pendidikan Islam di Indonesia. Namun, mereka lupa bahwa pesantren yang telah bertahan selama berabad-abad adalah lembaga pendidikan yang memiliki kekuatan mental budaya yang tangguh dan sistem kelembagaan yang fleksibel sehingga mampu menyesuaikan diri dalam setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam sejarah Indonesia ikut memberi andil dalam pembentukan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu pesantren telah diakui sebagai lembaga yang sangat berjasa bagi ummat Islam. Terbukti, lembaga-lembaga pesantren telah berhasil mengislamkan hampir 90% penduduk Indonesia dan mempertahankannya hingga sekarang hingga Indonesia menjadi bangsa Muslim yang paling besar jumlahnya.

Pesantren Basis Pembentukan Karakter Muslim
K.H. Miscbach, tokoh dari kalangan ulama, mengatakan dalam Mubes I Ittihad al-Ma’ahid Islamiyah pada tanggal 2-3 Agustus 1969 bahwa pesantren merupakan kubu pertahanan mental masa-masa kolonial Belanda. Artinya, pesantren tidak hanya sebagai lembaga pertahanan fisik terhadap intimidasi dan senjata penjajah, namun pesantren juga menjadi kubu pertahanan yang bersifat mental ataupun moral. Pemikiran Snouck Hurgronje yang berupaya mengasimilasikan kebudayaan Indonesia dengan Belanda tidak mencapai keberhasilan karena sistem pertahanan masyarakat Indonesia saat itu dominan dipengaruhi pesantren. Tentu, ini dikarenakan tradisi dan corak santri yang tidak mudah berasimilasi dengan budaya Barat, dalam hal ini Belanda sebagai penjajah. 

Pesantren juga sukses dalam memberantas buta huruf pada masyarakat akar rumput masa penjajahan dengan sistem mengenalkan bahasa Arab Melayu. Di lain hal, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis masyarakat muslim Indonesia yang pertama membuka isolasi kultural dengan dunia luar. Hal ini adalah bentuk kemampuan pesantren dalam mengaktualkan bahasa Arab. Turunannya adalah membuka wacana bangsa hingga dapat berinteraksi dengan dunia dan keilmuan yang lebih luas.

Dengan demikian, sistem pendidikan pesantren berhasil melahirkan tokoh-tokoh ulama, zuama’, bahkan politikus, bahkan sampai saat ini pun dapat dibuktikan. Banyak tokoh-tokoh nasional sekarang pernah mengeyam pendidikan pesantren secara baik. K.H. Hasan Basri, tokoh dan ulama nasional mengatakan beberapa titik keberhasilan pesantren , antara lain:
1. Berhasil menanamkan iman yang kokoh dalam jiwa para santri sehingga mereka memiliki daya dan semangat juang yang tinggi untuk Islam.
2. Bersikap tegas menentang kekafiran dan kebatilan secara konsekuen dan menyatukan diri dengan golongan pergerakan yang mempunyai pandangan yang sama.
3. Mampu membentuk kecerdasan (intelektualitas) dan kesholehan (moralitas) pada diri para santri, menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan, dan membina diri untuk memiliki akhlak terpuji.
4. Mampu membentuk masyarakat yang bermoral dan beradab berdasarkan ajaran Islam (masyarakat santri) sehingga menjadi kekuatan sosial dengan pengaruhnya yang besar dalam masyarakat bangsa Indonesia.
5. Menjadikan dirinya bagaikan benteng terakhir pertahanan terakhir ummat Islam dari serangan Kebudayaan Barat yang dilancarkan pemerintah kolonial Belanda. Dengan kata lain, pesantren berhasil menyelamatkan kebudayaan Islam di Indonesia.
6. Pesantren dan masyarakat santrinya adalah satu-satunya lembaga pendidikan di Indonesia yang tidak mengenal kompromi atau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda.
7. Dalam menghadapi arus perubahan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang melanda bangsa Indonesia, ternyata masih tetap menunjukkan vitalitasnya untuk tetap berperan sebagai salah satu kekuatan sosial yang penting bagi peradaban Islam di Indonesia, baik masa kini maupun masa mendatang. Pesantren juga ternyata tidak tergilas oleh arus perkembangan lembaga-lembaga pendidikan modern yang berkiblat ke Barat.

Penjelasan-penjelasan di atas memperlihatkan bahwa pesantren, dulu ataupun sekarang, merupakan lembaga yang berhasil membentuk karakter-karakter pribadi muslim (santri) dan memiliki peranan besar dalam membina ummat dan bangsa hingga ke pelosok pedesaan. 

Upaya Mempertahankan Sistem Pesantren
Pada perkembangannya pesantren mulai memasukkan ilmu-ilmu umum sebagai salah satu bentuk pengembangan wawasan warga pesantren dari orientasi ke-akhiratan menjadi berimbang dengan kehidupan duniawi. Penyelenggaraan pendidikan formal, yaitu madrasah dan sekolah umum, ‘hidup’ dalam satu atap pesantren. Dengan kata lain pendidikan formal diselenggarakan dalam lingkar budaya pesantren. Hal ini berimbas pada para lulusannya yang tidak lagi hanya dibekali ilmu-ilmu agama sehingga mereka bisa memasuki sekolah-sekolah formal yang lebih tinggi tingkatannya dalam sistem pendidikan nasional. 

Semua hal tersebut menggambarkan bahwa seluruh jaringan sistem pesantren telah berubah, khususnya pada proses belajar-mengajar di pesantren. Para pengambil kebijakan menganggap itu perlu dilakukan karena pada kehidupan di era modern ini tidaklah cukup hanya berbekal moral yang baik, tetapi juga memerlukan bekal kemampuan ‘tekhnoratik’ khusus sesuai dengan semakin tajamnya pembagian kerja dan profesi yang dibutuhkan. 

Menurut Mastuhu, ada beberapa arah perkembangan pendidikan pesantren yang akan berjalan menempuh bentuk-bentuk alternatif sebagai berikut :
1. Tetap berbentuk lama, yaitu sebagai pendidikan non formal yang khusus mendalami ilmu-ilmu agama.
2. Berbentuk tetap sebagai pendidikan non formal di bidang agama tetapi dilengkapi dengan berbagai ketrampilan, dengan catatan bahwa studi keagamaan juga terus dikembangkan sesuai dengan pemikiran dalam Islam.
3. Berbentuk seperti alternatif kedua namun ada penyelenggaraan pendidikan formal, baik madrasah ataupun sekolah umum, sebagaimana sekarang ini yang berlaku: ‘pesantren’ madrasah dan sekolah umum berada dalam satu ‘kampus’ pesantren.
4. Berubah menjadi bentuk pendidikan formal yang mengasuh khusus ilmu-ilmu agama.
5. Berubah menjadi bentuk alternatif keempat ditambah dengan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan juga dikembangkan sesuai dengan perkembangan pemikiran dalam Islam. Artinya, pengajaran ilmu-ilmu agama menjadi mayoritas sedang ilmu pengetahuan umum menjadi minoritas. Bentuk ini pernah dilakukan Departemen Agama melalui sekolah-sekolah percobaan yang dinamakan ‘Madrasah Plus’ di Padang, Makassar, Jawa Timur. Sekolah percobaan tersebut dimaksudkan untuk mencari calon-calon mahasiswa UIN, dengan perbandingan kurikulum 70% ilmu agama, 30% ilmu pengetahuan umum.
6. Berubah menjadi bentuk pendidikan formal seperti alternatif kelima, tetapi dengan perbandingan terbalik, 70% akal (ilmu pengetahuan umum atau metode berfikir) dan 30% moral (agama). Bentuk ini sama dengan bentuk yang sekarang berlaku bagi madrasah-madrasah yang diasuh oleh Departemen Agama, sebagai hasil keputusan Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri tahun 1975.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa Sistem Pendidikan Nasional kita terperangkap pada dikotomi keilmuan, yaitu pendidikan umum yang berorientasi pada pengembangan akal dan pendidikan agama yang berorientasi pada pengembangan moral. Padahal, seharusnya kedua ilmu tersebut (umum-agama) dapat diintegralkan di atas landasan paradigma Islam. Profesionalitas yang dikembangkan melalui pendidikan formal harus dipadu oleh iman dan takwa kepada Allah SWT. 

Dalam perkembangannya ke depan, yang harus selalu diingat adalah bahwa pesantren harus tetap menjadi ‘rumah’ dalam mengembangkan pertahanan mental spiritual sesuai dengan perkembangan jaman dan tuntutan masa. Selain itu, ilmu yang diajarkan di pesantren harus memiliki pola integralistik (umum-agama) yang dilandasi karakteristik keilmuan Islam , diantaranya bersumber dari Allah SWT, bersifat duniawi dan ukhrawi, berlaku umum untuk semua komunitas manusia, realistis, dan integral; artinya tidak dikotomis pada dimensi keilmuannya, serta universal sehingga dapat melahirkan konsep-konsep keilmuwan di segala bidang dan semua kebutuhan manusia. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah pesantren, yang merupakan pendidikan berbasis agama (Islam), harus mampu memaksimalkan aspek da’wah karena da’wah merupakan bagian dari Islam dan tidak bisa dipisahkan dengan ilmu-ilmu keislaman. 

Oleh karena itu dibutuhkan beberapa cara, baik langsung maupun tidak langsung, untuk menjalankan hal tersebut, seperti menyediakan SDM, yaitu menyediakan para pengelola dan pengajar yang faham konsep-konsep tersebut, ada kebijakan politik dari pihak terkait untuk mendukung hal tersebut, dan selalu melakukan penelitian untuk melakukan pengembangan sistim pesantren dari masa ke masa.
Dalam hal ini, kebijakan pemerintah turut mempengaruhi dunia pendidikan, khususnya pesantren. Pemerintah seyogyanya memiliki keberpihakan dan pembelaan pada pesantren, khususnya pada isu terorisme yang berkembang beberapa tahun ini. Diharapkan ada dukungan kebijakan terhadap fitnah yang tertuju pada sistem pendidikan yang memang lahir dari rahim bangsa kita sendiri.
Kemudian, dukungan masyarakat pada keberadaan lembaga pendidikan pesantren tersebut juga tidak bisa diabaikan. Dengan kata lain bahwa masyarakat hendaknya juga memiliki kesadaran untuk ikut terlibat dalam perubahan sistem pendidikan pesantren. Misalnya ada keterlibatan masyarakat dalam pesantren yang berorientasi pada bidang sosial, budaya, ataupun pertanian.

Penutup
Pendidikan dalam Islam mempunyai tujuan untuk mewujudkan manusia yang baik, manusia yang sempurna atau manusia universal yang sesuai dengan fungsi utama diciptakannya. Dalam hal ini lembaga pesantren telah memulainya dengan melahirkan figur dan tokoh yang benar-benar meraih pencapaian hal tersebut.

Sebagai pendidikan yang lahir dari rahim bangsa sendiri, pesantren harus menjadi garda terdepan dalam melaksanakan kegiatan da’wah sesuai spesifikasinya. Meminjam ungkapan Pak Natsir, “Risalah Merintis Da’wah Melanjutkan”. Da’wah merupakan bagian dari Islam dan tidak bisa dipisahkan dengan ilmu-ilmu keislaman. Pesantren sebagai tempat menuntut ilmu dipandang sangat strategis bila memainkan peranan utama dalam mengembangkan da’wah tersebut. Oleh karena itu, landasan yang mungkin dapat digunakan pesantren dapat mengacu pada konsep-konsep pendidikan dan pembinaan yang komprehensif dan pengembangan masyarakat di sekitar pesantren, baik dari sisi budaya beribadah atau tradisi ber-muamalah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan memaksimalkan aspek da’wah, pesantren diharapkan memiliki para santri yang memiliki kesadaran untuk turut terlibat dalam pekerjaan da’wah, sehingga antara pesantren dan lingkungan di sekitarnya tidak memiliki jarak dalam hal nilai keislaman yang dikembangkan dalam budaya pesantren.

DAFTAR PUSTAKA
Indra, Hasbi Indra, Dr., M.Ag., Pesantren dan Transformasi Sosial, Jakarta: Penamadani, 2005.
Ismail, Taufiq, et al., Drh., H., Membangun Kemandirian Umat di Pedesaan, Bogor: Pesantren Pertanian Darul Fallah, 2000.
Kumpulan Hasil-Hasil Kongres Ummat Islam Indonesia: Menyongsong Era Indonesia Baru, Jakarta: MUI, 1998.
Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta: INIS, 1994
Muhammad Azis, Abdul Ghoffar Muhammad Azis, et al., DR., Dirâsât al-Nidzâm wa al-Tsaqâfah al-Islâmiyyah, Kairo: Al-Azhar University, t.th.
Nandika, Dodi, Pendidikan di Tengah Gelombang Perubahan, Jakarta: Pustaka LP3ES, 2007.
Natsir, M., Kubu Pertahana Mental Dari Abad ke Abad, Jakarta: DDII perwakilan Jatim, 1969.
Sumber :
 

Keunggulan Sekolah Berbasis Pesantren

MENGHADAPI kehidupan global yang semakin sulit dikendalikan, berbagai kalangan, khususnya para orangtua, mulai resah dengan perkembangan (jiwa) anak-anak mereka. Dari berbagai persoalan, yang paling merisaukan adalah kehidupan susila atau sex bebas para remaja. Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) M Masri Muadz menyatakan, berdasarkan hasil survei perusahaan kondom pada 2005 di hampir semua kota besar di Indonesia (Sabang-Merauke), tercatat sekitar 40%-45% remaja antara 14-24 tahun menyatakan secara terbuka mereka telah berhubungan seks pranikah.

Bahkan, data BKKBN menunjukkan 60% remaja sudah ingin mendapatkan pelayanan KB. Padahal, secara aturan, ini melanggar hukum karena alat kontrasepsi hanya boleh diberikan kepada pasangan yang menikah (Sindo, 10-5-2007). Lebih jauh data BKKBN menjelaskan persoalan seks bebas berkaitan erat dengan persoalan narkoba dan HIV/AIDS. Total jumlah pasangan usia subur sebesar 15% dari total populasi. Jumlah remaja sekitar 20% atau 60 juta orang. Sementara itu, penderita HIV/AIDS, tercatat saat ini sejumlah 8.988 kasus AIDS dan 5.640 kasus HIV positif di Tanah Air.

Fatalnya, sekitar 8 ribu atau 57,1% kasus HIV/AIDS terjadi pada remaja antara 15-29 tahun (37,8% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 62,2% terinfeksi melalui penggunaan narkoba jarum suntik). Angka temuan penyakit menular mematikan itu masih jauh dari angka sebenarnya. Diperkirakan, angka riil pengidapnya adalah angka temuan dikalikan 1.000 atau sekitar 14,5 juta orang. Sekitar 8 juta di antaranya adalah remaja. Berdasarkan data Badan Nasional Narkotika (BNN), sebanyak 2,3 juta orang sudah mengonsumsi narkoba dan sebanyak 78%-nya adalah remaja.

Kebebasan seks kian terasa setelah internet hadir di tengah-tengah kita pertengahan 1990-an, kemudian diikuti lagi teknologi telepon seluler lengkap dengan media facebook yang kian canggih. Keduanya memberikan fasilitas baru bagi pergaulan yang nyaris tanpa sekat. Internet bukan cuma menampilkan gambar-gambar seronok lewat situs-situs pornonya, juga menjadi media untuk mencari kawan baru dengan semangat mesum. Sungguh celaka lagi jika para remaja mungkin mengidentikkan kebebasan seks dengan pergaulan modern. Ironis sekali kalau kehadiran teknologi yang serba modern saat ini yang seharusnya bisa dijadikan sebagai saluran informasi untuk menambah ilmu pengetahuan, malah dijadikan alat untuk melampiaskan syahwat dan perilaku menyimpang lainnya oleh para remaja, sungguh mengerikan!!!

Sekelumit ilustrasi di atas cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa kehidupan sosial kita sedang sakit. Perilaku remaja  sebagai bagian dari pranata sosial tidak bisa dilepaskan dari “sistem pendidikan” yang memproduksinya. Menghadapi moral remaja yang cendrung terus terdegradasi, Kementerian Pendidikan Nasional, khususnya Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP), mulai tahun 2010 ini meluncurkan progam SMP Berbasis Pesantren (SBP) dan di Pulau Jawa sudah mulai diujicobakan pada beberapa sekolah. Sebagai konsultan di Dinas Pendidikan Aceh, saya berkesempatan mengikuti diskusi program tersebut yang dilaksanakan akhir tahun 2009 lalu di Jakarta.
Dalam diskusi itu terungkap bahwa menghadapi kehidupan masa depan yang semakin kompetitif dan kompleks diperlukan sebuah model pendidikan yang mampu mengintegrasikan  kecerdasan spritual keagamaan, emosional-moralitas, kecakapan hidup, serta berwatak plural dan multikultural. SBP diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mengerem erosi moral para remaja.    Pilihan memadukan sistem sekolah dan pesantren ini diambil setelah melihat dan mengamati secara seksama mutu pendidikan yang dilahirkan oleh masing-masing sistem.
Sekolah dan pesantren merupakan dua satuan pendidikan yang memiliki keunggulan berbeda. Bila mereka berjalan sendiri-sendiri, ada potensi dan kekuatan pendidikan yang terbuang sia-sia. Bila keduanya dapat disatukan akan lahir sebuah kekuatan pendidikan yang komprehensif.
Sistem Sekolah
Proses pendidikan di sekolah mencakup dimensi (1) pendidikan (sikap, pengetahuan dan keterampilan, (2) peran seleksi sosial yang mencakup pemberian legalitas (ijazah/sertifikat) dan seleksi terhadap peluang kerja, (3) pembinaan peserta didik, dan (4) aktivitas kemasyarakatan. Sekolah memiliki keunggulan dalam pengembangan peserta didik karena didukung oleh sistem berjenjang, program didesain secara hierarkis dan sistematis, serta adanya standarisasi pencapaian keberhasilan pendidikan. Peserta didik juga mendapatkan materi terstruktur, faktual, dan dibutuhkan dalam dunia kerja, sehingga sekolah memberikan kontribusi bagi pembentukan dan pengembangan SDM berkualitas. Sekolah menjadi barometer untuk menyebutkan seseorang berpendidikan atau tidak.

Keunggulan lain sistem sekolah adalah (1) kurikulum yang dinamis dan fleksibel ditandai dengan bahan ajar yang disusun secara sitematis sesuai dengan komptensi yang ingin dicapai, strategi dan model pembelajaran variatif yang berorientasi pada efetivitas dan efisiensi; (2) pendidik memiliki kualifikasi dan kompetensi yang terukur; (3) sarana dan prasarana lebih memadai; dan (4) manajemen yang lebih profesional.
Sistem Pesantren
Sebagai satuan pendidikan nonformal keagamaan, pesantren (dayah) dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam asli dan tertua di Indonesia. Pesantren dimaknai sebagai “tempat belajar santri”. Fakta sejarah menunjukkan pesantren sudah ada di Indonesia jauh sebelum datang Islam yang digunakan sebagai tempat belajar agama Hindu-Budha dalam membina kader-kader penyebar agama. Pesantren bukan sekedar tradisi Islam karena tidak ditemukan lembaga pesantren di negara-negara Islam selain Indonesia, sementara lembaga serupa banyak ditemukan di dalam masyarakat Hindu dan budha di India, Myanmar, dan Thailand. Dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan pesantren dipercayai sebagai bentuk pendidikan asli Indonesia, yang lahir melalui proses akulturasi berbagai kebudayaan Indonesia.
Pesantren paling tidak memiliki 5 komponen dasar, yakni kiayi (tengku), santri, masjid, pondok (asrama) dan kitab kuning (klasik). Kelima komponen itu memiliki fungsi masing-masing yang membedakannya dengan satuan pendidikan lainnya.
Keunggulan pesantren antara lain (1) Misi pendidikan lebih banyak ditekankan pada aspek moralitas dan pembinaan kepribadian. (2) Kultur kemandirian dalam interaksi sosial. (3) Penguasaan literatur klasik yang sarat dengan nilai dan pesan moral yang berguna bagi pengembangan peradaban yang beretika. (4) Kharisma kyai sebagai manajer dan pengasuh lembaga pesantren menjadikan panutan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari. (5) Hubungan kyai dan santri yang bersifat kekeluargaan dengan kepatuhan yang tinggi.
Memadukan Keunggulan
Keunggulan pada masing-masing satuan pendidikan tersebut akan semakin berarti, jika keduanya diintegrasikan ke dalam satu model satuan pendidikan yang dikelola secara terpadu. Prinsip dasar SBP adalah pengintegrasian berbagai kecerdasan sebagai upaya pembentukan multiple intelegence peserta didik agar memiliki kemampuan akal (pikir), kemampuan spritual (zikir dan qalbu), dan kemampuan untuk melakukan sesuatu atas dasar keterampilan dan profesionalitas. SBP akan memfasilitasi tumbuhnya kesadaran akan pluralitas dan berkembangnya nilai-nilai multikultur yang mengedepankan toleransi (tasamuh) tolong-menolong (ta’awun), dan menghargai perbedaan. SBP mengintegrasikan kebenaran nash (Al-Quran dan hadis) dengan kebenaran sains (IPTEK). Jika prinsip pesantren dapat mewarnai sekolah hal yang menarik adalah dimasukkannya “Penguasaan Kitab Kuning” dalam kurikulum. Kitab kuning berisi naskah-naskah klasik yang sarat dengan nilai, sejarah, tauladan dan ajaran-ajaran agama yang dapat memupuk sikap santun dan beradab.

SBP sangat relevan di Aceh dan sejalan dengan Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Bab III pasal 5 ayat 2 “Sistem pendidikan nasional yang diselenggarakan di Aceh didasarkan pada nilai-nilai islami”. Saat ini di Aceh sudah ada sejumlah pesantren (dayah) terpadu, meskipun persentasenya  kecil. Dengan adanya program SBP sebagai produk nasional tentu terbuka bagi Aceh untuk menerapkan SBP pada semua sekolah (SD, SMP, SMA). Untuk mendukung ini, Kementerian Pendidikan Nasional sudah menerbitkan Buku Panduan Pelaksanaan Sekolah Berbasis Pesantren  khususnya untuk jenjang SMP. Pengembangan pendidikan SBP sesungguhnya merupakan ijtihad dalam konteks melahirkan manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt. Pengembangan model SBP tentu saja tidak sebagai “obat mujarab” atau satu-satunya alternatif dalam upaya mengendalikan prilaku negatif remaja. Namun, paling tidak SBP dapat dijadikan sebagai kontribusi monumental dalam rangka pengembangan manusia handal yang memiliki intelektual quetient, spiritual quetient, dan emotional quetient serta berwatak multikultural. Kebersamaan dan dukungan semua pihak (pemerintah, masyarakat, stakeholders, user, praktisi pendidikan, akademisi dan peneliti) akan sangat menentukan program SBP bisa sukses diimplementasikan.
* Denni Iskandar, M.Pd. adalah  Dosen FKIP Unsyiah
 

Degradasi Moral dapat di Bendung dengan Sekolah Berbasis Pesantren

KBRN, Surabaya : Penting nya penerapan sekolah berbasis asrama dengan mengedepankan aqidah agama mutlak di butuhkan, untuk membendung degredasi moral yang berimbas pada pergaulan bebas. 
Nur Syam, Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag mengungkapkan sekolah berbasis pesantren bisa saja di terapkan pada sekolah reguler, dengan tidak meninggalkan mata pelajaran yang sudah diajarkan.
Konsep pesantren, dijelaskannya merupakan cara yang paling jitu dalam menjaga moral bangsa, terlebih di tengah teknologi informasi dan perkembangan media yang berkembang pesat. 
"Salah satu kelebihan lembaga Pendidikan berboarding school semacam pesantren dengan mengedepankan asrama itu menjadi sangat penting di tengah perubahan-perubahan Sosial yang ada," ungkap Nursyam, kepada RRI. Senin (17/6/2013).
Apa yang terjadi sekarang, pada palajar kota-kota besar seperti hal nya di Surabaya, kata Rektor IAIN Sunan Ampel ini di sebabkan oleh berbagai hal, namun yang utama dalam hal ini, belum penerapan, pendidikan, dan karakter agama mutlak ditumbuhkan, agar generasi muda tidak salah arah.
Sementara itu, Fenomena prostitusi di kalangan pelajar di nilai hotline Pendidikan Surabaya merupakan hal yang biasa di kota-kota besar seperti halnya di Surabaya.
Ironisnya, semua itu tidak lagi di dominasi keluarga miskin karena himpitan ekonomi, namun juga disebabkan gaya hidup yang merambah semua kalangan baik itu dari masyarakat berada,maupun menengan kebawah.
"Apa yang terjadi di Surabaya ini kan sesuatu fenomena yang pernah dilansir Hotline Pendidikan diakhir tahun,bahwa pelaku seksual pelajar kita baik SMP maupun SMA,berdasarkan risert yang ada 16 persen diantaranya pelajar SMA pernah melakukan seks bebas, kemudian pelajar SMP 15 persen," terang Isa Anshori.
Menurut Ketua Hotline Pendidikan Surabaya ini, dibutuhkan kerja keras agar praktek prostitusi di kalangan pelajar dapat di carikan jalan keluar.Salah satu diantara nya diperlukan pengawasan dan tidak melakukan pembiyaran. 
"Contah saja pengawasan di mall saja kurang, masih ada siswi berseragam yang dengan leluasa mengunjungi pusat perbelanjaan, padahal tersebut sangat rentan terjadi nya praktek transaksi prostitusi," pungkasnya. (Benny/WDA).
Sumber :
 

Indahnya Jika Sekolah Berbasis Pesantren

Karakter bangsa yang kuat bisa diperoleh dari sistem pendidikan yang baik dan tidak hanya mementingkan faktor kecerdasan intelektual semata, melainkan juga pendidikan yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan serta menghasilkan output yang tidak sekadar mampu bersaing di dunia kerja, namun juga mampu menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara. Untuk mewujudkan hal itu, maka diperlukan pendidikan yang mencakup dua unsur utama, yaitu keunggulan akademik dan keunggulan nonakademik (termasuk keunggulan spiritual).
Sekolah formal adalah contoh lembaga pendidikan yang berfokus pada faktor kecerdasan akademik meskipun tidak lantas mengabaikan hal-hal yang bersifat spiritual atau keagamaan. Hanya saja, sistem pendidikan di sekolah formal memang menekankan pencapaian prestasi anak didik dalam hal kecerdasan intelektual yang pada akhirnya bermuara pada berbagai ukuran akademik.
Sementara itu, pondok pesantren menjadi salah satu pilihan lembaga pendidikan yang mengutamakan upaya pencerdasan spiritual atau keagamaan meskipun sekarang ini banyak pondok pesantren di Indonesia yang juga memberikan pengetahuan umum secara terintegrasi. Dengan kata lain, sudah banyak pondok pesantren modern yang mencerahkan sekaligus mencerdaskan.
Upaya pembentukan karakter bangsa kepada generasi muda, yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, dapat melalui lembaga pendidikan atau sekolah berbasis pondok pesantren. Yang bertujuan untuk mencetak anak didik yang paham keilmuan umum sekaligus keilmuan keagamaan atau anak didik yang berpengetahuan umum serta mempunyai kepribadian religius, sederhana, dan mandiri.
Pilihan memadukan sistem pendidikan di sekolah formal dan di pondok pesantren ini diambil setelah melihat dan mengamati secara seksama mutu pendidikan yang dilahirkan oleh masing-masing sistem. Secara umum, sekolah dan pondok pesantren merupakan dua lembaga pendidikan yang masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda satu sama lain.
Apabila keunggulan dari kedua lembaga pendidikan itu dipadukan, maka akan tercipta sebuah kekuatan pendidikan yang kuat dan berpotensi mampu menghasilkan generasi muda Indonesia yang unggul, handal, dan berkarakter.
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia.
Secara psikologi, tujuan pendidikan adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Menurut tokoh pendidikan karakter dari Jerman FW Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengkualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontinguen yang selalu berubah. Foerster mengatakan bahwa dari kematangan inilah kualitas seorang pribadi dapat diukur (Ali, 2007:242).
Istilah karakter mempunyai beberapa pengertian. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain (Pusat Bahasa, 2005:1270). Watak sendiri dapat dimaknai sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku,
budi pekerti, serta tabiat dasar.
Musfiroh (2008:27) mengatakan bahwa karakter mengacu pada serangkaian sikap perilaku (behavior), motivasi (motivation), dan keterampilan (skill) yang meliputi keinginan untuk melakukan hal yang terbaik. Sementara itu, Semiawan (Soedarsono, 1999:17) karakter adalah keseluruhan kehidupan psikis seseorang yang merupakan hasil interaksi antara faktor endogin dan faktor eksogin atau pengalaman dari seluruh pengaruh lingkungan.
Rosada (2009:108) menjelaskan bahwa karakter dapat dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), bertindak (acting), dan menuju kebiasaan (habit).Karakter bukan hanya sebatas pada pengetahuan saja, tetapi perlu adanya perlakuan dan kebiasaan untuk berbuat. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai pengetahuannya itu jika dia tidak berlatih untuk melakukan kebaikan tersebut (Lickona, 1992:53).
Untuk menjadi manusia yang berkarakter, seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai moral tanpa disertai adanya karakter bermoral.
Adapun yang termasuk dalam karakter bermoral, menurut Lickona (1992) adalah tiga komponen karakter (components of good character), yakni pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling), dan perbuatan bermoral (moral actions). Ketiga hal ini diperlukan agar seseorang mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berpikir positif, simpati, empati, jujur, religius, peduli, rendah hati, dan lain-lain.
Lantas apakah pendidikan karakter itu? Secara umum pendidikan karakter adalah suatu istilah untuk menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Sebagaimana telah ditulis di atas, Lickona (1992) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah upaya penanaman dan pembentukan karakter yang menekankan pada pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character), yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan perbuatan bermoral (moral action).
Hidayat & Widjanarko (2008: 184) menjelaskan bahwa yang termasuk area pendidikan karakter antara lain: penalaran moral atau pengembangan kognitif, pembelajaran sosial dan emosional, pendidikan kebajikan moral, pendidikan keterampilan hidup, pendidikan kesehatan, pencegahan kekerasan, resolusi konflik, serta filsafat etik atau moral.
Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan proses yang terintegrasi dengan pendidikan secara luas dan bertahap, dari pendidikan di dalam keluarga, lembaga pendidikan (misalnya sekolah, baik formal, informal, atau nonformal), hingga di kehidupan bermasyarakat. Pendidikan karakter juga menjangkau proses penanaman nilai-nilai agama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah upaya agar peserta didik mengenal, peduli, dan menginteranalisasi nilai-nilai sehingga mereka dapat berperilaku sebagai insan kamil
(Syafaruddin, 2012:192).
Dalam konteks ini, lembaga pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai agama atau spiritual, seperti pondok pesantren, mutlak diperlukan. Jika sekolah formal (SD, SMP, SMA, SMK, dan sejenisnya) memfokuskan sistem pendidikannya pada sektor kecerdasan intelektual atau akademik, maka pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan yang mengutamakan pengajarannya pada sektor kecerdasan spiritual dan pendalaman ajaran agama Islam. Pandangan tentang pondok pesantren sendiri cukup beragam. Pondok pesantren dapat dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah, atau lembaga pendidikan Islam.
Sejak didirikan pertama kali, pesantren memang merupakan sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan pengajaran dalam bidang agama Islam (Widiyanta & Miftahuddin, 2009). Istilah pesantren sendiri berasal dari kata santri, yang mendapatkan imbuhan berupa awalan pe- dan akhiran -an. Oleh karena itu, pesantren dapat diartikan sebagai tempat tinggal para santri. Arti kata santri sendiri adalah orang yang mendalami agama Islam, atau orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh, atau orang yang saleh (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008:1266).
Pesantren kemudian lebih dikenal dengan sebutan yang lebih lengkap, yaitu pondok pesantren. Pesantren disebut dengan pondok karena sebelum tahun 1960-an, pusat-pusat pendidikan pesantren di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau barangkali berasal dari bahasa Arab yang berarti hotel atau asrama (Dhofier, 1994:18).
Sama seperti sekolah formal, pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kegiatan belajar mengajar. Unsur-unsur yang terdapat di lembaga pondok pesantren pun serupa dengan yang terdapat di sekolah formal. Ada kiai sebagai guru, santri sebagai
murid, kitab sebagai buku, pondok sebagai kelas dan asrama, pendalaman ajaran agama (termasuk pengajaran kitab) sebagai mata pelajaran, dan seterusnya. Oleh karena itu, dalam perkembangannya pada konteks pendidikan, makna pondok pesantren pun menjadi meluas dan tidak sempit lagi.
Pendidikan di pondok pesantren seringkali dikategorikan ke dalam sistem pendidikan tradisional karena lembaga ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam di Indonesia (Mastuhu, 1994:55). Namun demikian, seiring perkembangan zaman, di Indonesia sekarang ini banyak pesantren yang memperbaharui konsepnya menjadi lebih modern.
Upaya memadukan pendidikan sekolah formal dengan pondok pesantren akan menghasilkan sistem pendidikan yang lebih kuat dan lengkap. Pengembangan model pendidikan berbasis pesantren sebenarnya merupakan wujud upaya dalam memadukan keunggulan pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah keunggulan pelaksanaan sistem pendidikan di pondok pesantren.
Di lembaga pendidikan formal, termasuk di sekolah menengah pertama, pendidikan karakter telah menjadi bagian dalam struktur dan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan saat ini dilanjutkan dengan kurikulum 2013. Dengan demikian, masing-masing sekolah mempunyai kewajiban untuk menerapkan pola pendidikan karakter kepada anak didiknya. Pendidikan karakter di sekolah formal bisa diberikan melalui mata pelajaran khusus, disisipkan ketika guru menyampaikan pelajaran di dalam kelas, atau bisa juga melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Dengan diterapkannya prinsip-prinsip pendidikan karakter di sekolah formal, diharapkan akan terbentuk karakter anak bangsa seperti yang dicita-citakan. Adapun ciri karakter anak yang diharapkan dapat dicapai melalui pendidikan karakter di sekolah formal antara lain: bertanggung-jawab, bergaya hidup sehat, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir cakap (logis, kritis, kreatif, dan inovatif), mandiri, ingin tahu, cinta ilmu, sadar hak dan kewajiban, patuh pada aturan sosial, menghargai karya orang lain, sopan santun, demokratis, cinta lingkungan, nasionalis, menghargai keberagaman, dan lain-lain.
Pendidikan karakter yang diajarkan di pondok pesantren lebih terfokus untuk menanamkan jiwa religius, akhlakul hasanah, disiplin, kesederhanaan, menghormati orang yang lebih tua, dan memberikan pemahaman tentang makna hidup. Alhasil, para santri yang belajar di pondok pesantren diharapkan mempunyai karakter keagamaan yang kuat, mampu mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dengan baik, patuh kepada orang yang patut dihormati, memiliki akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, serta mampu memaknai tentang kehidupan berdasarkan Alquran dan Hadist.
Keunggulan yang terdapat pada masing-masing lembaga pendidikan itu akan semakin bermakna apabila keduanya diintegrasikan ke dalam satu model satuan pendidikan yang dikelola secara terpadu atau yang kemudian dikenal sebagai model sekolah berbasis pesantren (SBP). Integrasi ini akan menjadi instrumen yang berharga bagi peningkatan mutu SDM di Indonesia sehingga menjadi manusia yang kompetitif dan komparatif serta mampu bersaing di era globalisasi tanpa harus meninggalkan karakter bangsa.
Jika sekolah formal berbasis pondok pesantren dikelola dengan baik, maka hasil yang akan diperoleh pun juga berkualitas baik. Lulusan Sekolah Berbasis Pesantren diharapkan bisa menjadi manusia Indonesia yang handal, memiliki integritas intelektual, spiritual, dan emosional, serta berwatak plural dan multikultural, menghargai hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang madani, berkarakter, serta mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
*Penulis adalah guru SMPN 1 Sukosari Bondowoso dan pernah mengajar di beberapa Madrasah.
Sumber : 
 

Sekolah Berbasis Pesantren, Terobosan Baru Pendidikan Indonesia

Menjamurnya sekolah umum berbasis pembinaan islam (pesantren) akhir-akhir ini mendapat respon dari pemerintah dalam hal ini kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (dulu Kemendiknas). Kemendikbud menggandeng Kementerian Agama agar dapat berjalan sinergi memberi perhatian dan mengoptimalkan sekolah umum yang di dalamnya mengajarkan pendidikan keislaman untuk peserta didik.

Jika sebelumnya pelajaran agama di sekolah umum porsi waktunya sangat sedikit (hanya 2 jam pelajaran per minggu), maka dengan konsep terpadu pembelajaran agama dapat berlangsung lebih lama dan praktiknya lebih nyata. Begitu pun dengan pondok pesantren, jika sebelumnya mata pelajaran umum waktunya belum memadai, sekarang porsi waktunya tersedia lebih cukup. Kini kedua disiplin keilmuan itu dapat berjalan sejajar dan sama-sama kuat.

Upaya memadukan pendidikan sekolah formal, khususnya SMP, dengan pondok pesantren ternyata mampu menghasilkan sistem pendidikan yang lebih kuat dan lengkap. Pengembangan model pendidikan SMP berbasis pesantren merupakan upaya memadukan keunggulan pelaksanaan sistim pendidikan di sekolah umum dan kelebihan sistim pendidikan di pondok pesantren.

Keunggulan yang terdapat pada masing-masing lembaga pendidikan akan semakin bermakna dikelola secara integral dan terpadu. Integrasi ini menjadi perangkat yang berharga bagi peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) yang punya kecerdasan dan wawasan umum sekaligus memiliki kekuatan rohani yang tangguh.

Jika di pondok pesantren diajarkan dan kental dengan aspek kemandirian, moralitas, daya juang, dan kekuatan ibadah, maka SMP di ajarkan pengetahuan umum seperti sains, budaya, sastra, serta teknologi dengan kurikulumnya yang  terstruktur serta SDM yang tersedia lebih lengkap. Proses integrasi diharapkan agar peserta didik ke depan mampu menjadi pribadi yang handal, memiliki kecerdasan intelektual, sekaligus punya karakter dengan kekuatan spritual dan  sosial yang melekat di dalam dada.

Inilah penanaman nilai karakter yang sesungguhnya. Peserta didik dibina dan dibimbing dengan karakter berbasis masjid. Pendekatan spritual yang sesuai dengan nilai Al-Qur’an. Nilai karakter memang harus ditanamkan sejak dini. Apa lagi di usia SMP adalah masa yang sulit, penuh tantangan, dan gejolak. Ibarat pondasi bagi sebuah bangunan, usia SMP adalah masa pemasangan pondasi. Ia harus dipasang kuat agar bangunannya bisa berdiri dengan kokoh dan kuat. Penanaman karakter harus dipastikan dapat berlangsung sukses di masa ini.

Sekolah Berbasis Pesantren (SBP) secara nasional mulai dideklerasikan tahu 2008 silam. Menurut data Kemdikbud, sampai tahun 2010 tercatat sudah 66 sekolah yang tersebar diberbagai propinsi di Indonesia yang bergabung dalam sekolah Berbasis Pesantren (SBP). Dan hingga tahun ini (2012), jumlahnya sudah mencapai 302 sekolah. Di Sumatera Barat, tercatat 4 (empat) sekolah yang dipilih Kemendikbud dan Kemenag bergabung di SBP diantaranya SMP IT Darul Hikmah Pasaman Barat, SMP Nurul Ikhlas Tanah Datar, SMP Perguruan Islam Ar-Risalah Kota Padang, dan SMP Prof. Dr. Hamka di Padang Pariaman.

Sebagai mana laporan Direktur Pembinaan SMP Ditjen Dikdas Kemdikbud Dr. Didik Suhardi, M.Ed di hadapan peserat koordinasi sekolah SBP se-Indonesia di Cipanas Jawa Barat 5 – 8 Desember 2012, Sekolah SBP secara nyata terus menjukkan kemajuan yang pesat dan perkembangan secara kuantitas maupun kualitas. Ditandai dengan perolehan prestasi sekolah dan jumlah penerimaan siswa dari tahun ke tahun yang terus meningkat.
Sumber : http://smpit-darulhikmah.blogspot.com/2013/05/smp-berbasis-pesantren-terobosan-baru.html
 

MTs Assalafiyyah Sebagai Sekolah Berbasis Pesantren

Pengertian :
Sekolah Berbasis Pesantren (SBP) merupakan model sekolah yang mengintegrasikan keunggulan sistem pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dan keunggulan “sistem” pendidikan di pesantren.
Pada tataran implementasinya, SBP merupakan model pendidikan unggulan yang mengintegrasikan pelaksanaan sistem persekolahan yang menitikberatkan pada pengembangan kemampuan sains dan keterampilan dengan pelaksanaan sistem pesantren yang menitikberatkan pada pengembangan sikap dan praktik keagamaan, peningkatan moralitas dan kemandirian dalam hidup.

Tujuan  dan hasil yang diharapkan:
1. Mengembangkan model pendidikan unggulan yang integratif dan komprehensif dalam peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia
2. Mengembangkan model pendidikan yang berorientasi pada pencapaian keunggulan komparatif (comparative advantages) dan keunggulan kompetitif (competitive advantages) dalam menghadapi persaingan global
3. Meningkatkan mutu sumber daya manusia yang memiliki keseimbangan intelektual (fikr), skill (‘amal) dan moralitas (zikr & qalb)
Mengembangkan model pendidikan yang berwatak plural dan multikultural, kesetaraan gender dan demokratis.

Prinsip-Prinsip Dasar
  • Pengintegrasian 3 kemampuan intelektual (IQ, SQ, dan EQ)
  • Pengembangan konsep totalitas (social skills, academic skills, dan vocational skills)
  • Berwatak Plural dan Multikultural (tasamuh, ta’awun)
  • Tidak Diskriminatif
  • Berwawasan Keunggulan Lokal, Regional maupun Internasional
  • Kesadaran atas Hak Asasi Manusia (Human Rights Awearness)
  • Penguasaan Kitab Kuning
  • Pengembangan Pendidikan Kecakapan Hidup
  • Sekolah sebagai pendekatan satuan pendidikan.
  • Proses pembelajaran terpadu (IMTAQ DAN IPTEK)
  • Sistem Pengasuhan
  • Perlakuan khusus terhadap peserta didik yang memiliki kemampuan khusus


Tentang Pesantren
Pesantren adalah institusi pendidikan berbasis masyarakat  yang memiliki tata nilai   yang tidak terpisahkan  pendidikan Islam di Indonesia. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal di Indonesia,  berhadapan dengan persoalan-persoalan  sikap dan prilaku moral para peserta didiknya. Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam genuine di Indonesia yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Pesantren memiliki 5 (lima) komponen dasar, yakni kiai, santri, masjid, pondok dan kitab kuning (kitab klasik). Kelima komponen tersebut memiliki fungsi  yang menjadikan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya
Pemerintah gencar mewacanakan  program pengembangan pendidikan karakter dan pengembangan sekolah berbasis pesantren.

Wacana program ini belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam wilayah yang praksis-operasional
Kultur yang berkembang di pesantren seperti kejujuran, kemandirian, toleransi dan lain sebagainya dapat diadopsi ke dalam proses pendidikan di sekolah
Pemerintah gencar mewacanakan  program pengembangan pendidikan karakter dan pengembangan sekolah berbasis pesantren.
Wacana program ini belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam wilayah yang praksis-operasional
Kultur yang berkembang di pesantren seperti kejujuran, kemandirian, toleransi dan lain sebagainya dapat diadopsi ke dalam proses pendidikan di sekolah

Kultur Pondok Pesantren
Sistem pondok pesantren memiliki kultur yang unik, dimana keberadaannya dalam sistem sosial kemasyarakatan berdiri sebagai subkultur tersendiri, tidak menjadi bagian dari struktur pemerintahan desa, kecamatan atau pemerintahan yang lebih tinggi.
Kyai (pengasuh pondok pesantren) tidak secara langsung berada dibawah atau di atas pimpinan pemerintahan tertentu di lingkungan setempatnya, tetapi berada di luar struktur sosial yang ada secara mandiri.

Literatur keilmuan yang dikembangkan dalam pondok pesantren umumnya merujuk sesuai latar belakang pendidikan dari pimpinan pondok pesantrennya
Sistem nilai yang diterapkan dalam kehidupan keseharian di pondok pesantren berbeda dari yang berada di luar pesantren. Pondok pesantren memiliki tata tertib, kebiasaan, dan sistem nilai lainnya yang mengacu pada ajaran agama Islam dan kultur lokal tertentu yang dinilai dapat berlaku secara universal

Karakteristik Utama Pendidikan Pesantren
  1. Aspek Ibadah (salat berjamaah, salat tahajud, berjanzi, istighosah, manakib ,tahlil dsb.)
  2. Aspek Muamalah (ukhuwah, berbusana muslim, disiplin, kemanan yang terjamin, kontrol pergaulan,pengatuan jam makan, tidur, piket, dan sanksi.
  3. Aspek Pendidikan (Orientasi kebahagian dunia dan akhrat, ilmu agama, akhlaqul karimah, bebasis kitab yang diajarkan/kitab kuning, pendidikan ketrampilan, menghormati yang lebih tua).
  4. Kepemimpinan (keteladanan kiyai, ketaatan/kepatuhan kepada kiai, badal/wakil, penjenjangan santri, jejaringan kiyai/ulama).
  5. Kelembagaan (kemandiarian pengelolaan dan sumber daya ekonomi,jaringan kerjasamadengan berbagai instansi, forum-forum santri dan dukungan masyarakat).
 

UTAMAKAN MENDIDIK MURID-MURID WANITANYA DENGAN LEMBUT TAPI TIDAK TERKESAN MEMAKSAKANNYA




KEUTAMAAN WANITA SHALIHAH


Abdullah bin Amr radhiyyallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:



الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ



Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan-perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.

(HR. Muslim no. 1467)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiyyallahu ‘anhu:



أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ،اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ



Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.

(HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih3/57: “Hadits inishahihdi atas syarat Muslim).


Berkata Al-Qadhi ‘Iyyadh Al Malikiy rahimahullah ta'ala: 



Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallama menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka menunaikan (membayar) zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihahyang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu bersamamu menemanimu. Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh anak-anakmu.

(Lihat Kitab ‘Aunul Ma‘bud Syarh Sunan Abu Dawud : 5/57).


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda:



أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ.وَأَرْبَعٌ مِنَ الشّقَاءِ: الْجَارُ السّوءُ، وَاَلْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَركَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ.



Empatperkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.

(HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawaridhal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani Tokoh Wahhabiy dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihahno. 282)


Ketika Umar ibnul Khaththab radhiyyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:



لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ



Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.

(HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani Tokoh Wahhabiy dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1505)


Cukuplah kemuliaan dan keutamaan bagi wanita shalihah dengan anjuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama bagi lelaki yang ingin menikah untuk mengutamakannya dariyang selainnya. BeliauShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأََرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا. فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ



Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.

(HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)


Empat hal tersebut merupakan faktor penyebab dipersuntingnya seorang wanita dan ini merupakan pengabaran berdasarkan kenyataan yang biasa terjadi di tengah manusia, bukan suatu perintah untuk mengumpulkan perkara-perkara tersebut, demikian kata Al-Imam Al-Qurthubi Al Malikiy rahimahullah ta'ala. Namun dzahir hadits ini menunjukkan boleh menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara tersebut, akan tetapi memilih wanita karena agamanya lebihutama. 

(Fathul Bari, 9/164)


Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Asy Syafi'I rahimahullah ta'ala berkata: 



(فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ),



Maknanya: Yang sepatutnya bagi seorang yang beragama dan memiliki muruah (adab dan martabat) untuk menjadikan agama sebagai petunjuk pandangannya dalam segala sesuatu terlebih lagi dalam suatu perkara yang akan tinggal lama bersamanya (istri). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan untuk mendapatkan seorang wanita yang memiliki agama di mana hal ini merupakan puncak keinginannya.

(Lihat Kitab Fathul Bari, Syarh Shahihu Al Bukhariy : 9/164)


Al-Imam An-Nawawi Asy Syafi'I rahimahullah berkata: 



Dalam hadits ini ada anjuran untuk berteman/bersahabat dengan orang yang memiliki agama dalam segala sesuatu karenaia akan mengambil manfaat dari akhlak mereka (teman yang baik tersebut), berkah mereka, baiknya jalan mereka, dan aman dari mendapatkan kerusakan mereka.

(Lihat Kitab Syarah Shahih Muslim Karya Imam An Nawawi : 10/52.
 

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PPAS MLANGI | MTSAM FANS
Copyright © 2013. MTs Assalafiyyah Mlangi - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI